Oleh: hidupbermakna | November 14, 2007

Mendapat Keajaiban Karena Taat Kepada Orangtua

Oleh A. ASEP SYARIFUDDIN

IBUKU adalah seseorang yang memiliki fisik yang lemah. Entah apa yang menjadikannya demikian. Tapi seingatku dia adalah orang yang mudah stress apabila menghadapi persoalan hidup. Ayahku hanyalah pegawai negeri golongan kecil, tidak heran kalau gaji sebulan sudah habis pada tanggal 10 setiap bulannya. Buntutnya, utang di koperasi di tempat kantor ayahku kian hari kian membengkak. Dan uang gaji yang sampai kepada ibuku tidak cukup menutupi kebutuhan satu bulan.

Di keluargaku ada tiga bersaudara, kakakku, aku dan adikku. Semuanya laki-laki. Tidak heran kalau terjadi perbedaan pendapat berujung adu mulut. Di sini ibuku sering menangis karena tidak siap melihat anak-anaknya berantem. Padahal dalam kacamataku, itu adalah persoalan yang wajar yang terjadi pada anak-anak. Lepas dari semua itu, aku ingin meringankan beban mental ibuku yang dirasa cukup berat. Sebagaian porsi pekerjaan ibuku mulai dari mencuci piring, mencuci pakaian, menyapu, mencari kayu bakar aku hendel. Ketika itu usiaku baru berumur 12 tahun atau kelas 6 SD.

Pagi-pagi setelah bangun subuh kubawa cucian ke sungai. Di sana sudah ada tetangga-tetangga yang semuanya adalah ibu-ibu. Awalnya mereka meledek dan mengolok-olok dengan ungkapan-ungkapan sinis. “Laki-laki kok mencuci baju keluarga, isterinya ke mana, melahirkan ya?” Tapi semua ledekan dan olok-olok itu tidak kupedulikan sampai akhirnya mereka berhenti mengolok-olok. Bahkan sebagian di antara mereka memberikan tanggapan positif karena walaupun laki-laki tapi mau membantu ibunya.

Pekerjaan tersebut kulakukan sampai aku kuliah. Bahkan aku sempat mendaftar ke sebuah perguruan tinggi di Bandung lewat PMDK, tapi akhirnya gagal. Bagaimana tanggapan ibuku? Dia malah bersyukur atas kegagalan tersebut. Dia bilang, “Kalau kamu tidak ada di sini beban ibu sangat berat, tidak ada yang membantu.” Aku terimaa semua itu sebagai sesuatu yang terbaik untukku. Karena aku pun tidak akan merasa tenang apabila jauh dari orang tua sementara ibuku secara lahiriah terlihat sangat lemah.

Dalam prinsipku, apapun yang dikatakan oleh ibuku adalah sesuatu yang mutlak. Entahlah, secara psikologis aku sangat yakin bahwa kata-kata ibu adalah benar adanya, surga ada di bawah telapak kaki ibu. Sampai-sampai ketika aku menaksir seorang cewek dan aku bilang kepada ibuku, dia berkata, mau belajar apa mau pacaran. Dengan berat hati aku urungkan niat untuk dekat dengan lawan jenis. Tidak heran kalau teman-temanku di SMA memberiku gelar anak mama. Ah betapa malunya aku di depan teman-temanku, tapi lagi-lagi semua ledekan tersebut kutelan dan tidak kupedulikan karena prinsip nasihat ibu adalah segalanya.

Di malam-malam yang sepi menjelang pagi, ibuku selalu membangunkanku untuk shalat malam. Merupakan pengalaman batin yang tidak pernah terlupakan. Kadang aku bersama ibuku menangis berdua, saat itu doa yang keluar sangat minimal, ingin diberikan jalan keluar dari himpitan hidup yang terasa sangat berat terutama keluar dari persoalan ekonomi. Tadarus Al Quran pun menjadi sebuah kebiasaan yang terus menerus dilakukan setiap hari. Memang ada kebahagiaan yang menggema di dalam batinku sehabis menjalankan shalat tahajud tersebut. Hari-hari terasa sangat indah, seisi alam seolah memberikan dukungan moral dan spiritual. Hidup terasa penuh makna. Aku memiliki keyakinan dan kepercayaan diri, siapa saja yang menjalankan shalat malam secara rutin dan menjadi kebiasaan sehari-hari, maka akan diberi jalan keluar dari berbagi persoalan hidup, sesulit apapun.

Di sekolah, aku tidak terlalu pandai. IQ ku tidak terlalu cerdas, tapi aku cukup rajin dan ulet dalam belajar. Itupun atas saran dari ibuku yang selalu mengatakan, bahwa kalau ingin sukses di masa yang akan datang maka ilmu pengetahuan adalah rajanya. Kamu akan mendapatkan apapun dari ilmu pengetahuan di masa yang akan datang, tapi jangan lupa agama tetap menjadi fondasi hidup supaya tdak terjebak oleh kesombongan dan merasa diri paling hebat. Camkan itu anakku. Kata-kata itulah yang masih terngiang di dalam telinga dan hatiku dan aku berusaha untuk tetap konsisten menjalankan nasihat-nasihat tersebut.

Menginjak usia 27 tahun, tahun 1999 bulan Desember, setelah satu bulan aku menikah, H-1 Ramadhan, aku harus berpisah dengan ibuku untuk selama-lamanya. Bumi terasa berhenti bergerak, alam terasa diam, hati berontak dan protes kepada Allah Yang Maha Kuasa. Mengapa dia yang selalu membimbingku, memberiku inspirasi, memberiku jalan hidup, memberiku semangat harus meninggalkanku untuk selama-lamanya? Kumandikan, kukafani, kusisiri, kusolatkan berjamaah dengan yang lain dan kuantar sampai ke liang kubur. Ada perasaan yang menyayat di dalam hati, siapakah yang akan menjadi pengganti ibuku, apakah aku sudah siap menghadapi kehidupan ini yang terjal, berliku penuh duri dan bebatuan?

Setelah satu minggu sejak kematian ibuku aku cepat menyadari siklus kehidupan yang senantiasa berubah, berjalan terus. Dan satu hal, setiap yang bernyawa pasti akan mengalami maut, termasuk diriku sendiri entah kapan. Tapi satu hal yang tidak pernah kulupakan dari ibuku, shalat malam setiap hari, belajar setiap saat, kelak engkau akan memiliki derajat yang tinggi. Ya, itulah mutiara yang sangat berharga yang diberikan ibuku, yang senantiasa menjadi panduan dan bekal hidup ke manapun aku pergi. Tidak mudah memang menghadapi hidup sendiri, banyak hal yang sebelumnya tidak diperhitungkan kemudian datang dengan tiba-tiba. Ternyata dunia ini sangat tidak bersahabat bagi yang tidak siap menghadapinya. Setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing bahkan nyaris perkawanan menjadi sangat rapuh akibat kepentingan pribadi yang terlalu menonjol.

Kini, aku tinggal bersama istriku dan seorang anakku di sebuah kota di Jawa Tengah. Dari kota kelahiranku di Jawa Barat menempuh perjalanan sekitar 4 jam. Tidak ada kerabat, tidak ada saudara tidak ada teman dekat yang sudah dikenal sejak awal. Tapi dari hari-ke hari aku merasa ada sesuatu yang senantiasa mensupport hidup ini. Pekerjaanku memang masih seorang karyawan, tapi lumayan menjadi top manajemen di sebuah perusahan swasta. Memang tidak semudah itu untuk mencapai posisi tadi, dan bukannya tanpa persoalan. Berbekal nasihat yang terus terngiang dari seorang ibu yang hanya lulus SD, tapi itu adalah bekal yang dapat menembus belantara kehidupan.

Kini, aku menyadari semua nasihat yang disampaikan ibuku waktu aku kecil. Aku terus mengingat perjalanan tersebut hingga kini sampai ke pernik-pernik kisah baik yang manis maupun yang pahit. Sampai menangis bersama adik dan kakakku pun masih tergambar jelas dalam benak. Benar kata pepatah, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Kalau aku tidak memiliki bekal spiritual yang cukup, kalau aku tidak memaksakan diri untuk kuliah sampai selesai walaupun dengan biaya yang tersendat-sendat, kalau aku tidak memiliki prinsip hidup dari ibuku, entahlah sekarang menjadi apa. Mungkin aku menjadi orang yang tidak berguna atau mungkin aku masih bingung menghadapi beratnya hidup ini.

Ya Allah, terimakasih atas anugerahmu, terimakasih atas segala petunjukmu, terimakasih Engkau telah memberikan nilai-nilai hidup lewat ibuku. Semua itu adalah sesuatu yang sangat berharga bagi diriku dan masa depanku, serta masa depan bangsa ini. Tanpa idzin-Mu, aku tidak akan seperti sekarang ini. Berikanlah rahmat tersebut kepada kami dan keluarga kami serta sahabat-sahabat muslim lainnya. Semoga, kami menjadi kelompok orang-orang yang bertakwa.

Semoga cerita ini menjadi inspirasi bagi siapapun yang membacanya. Ini memang bukan sesuatu yang terbaik, tapi paling tidak dapat menjadi refleksi, inspirasi bagi yang membaca. Hanya hidayah Allah lah yang membuat pengalaman seseorang menjadi inspirasi untuk menjalankannya. Amin. (*)


Tanggapan

  1. sajak terindah yang pernah ku dengar selama 22 tahun. yupz, about moms… HZ

  2. Sembilan tahun sudah Mamah tiada. Dan kita belum menjadi apa-apa……….Sorry, jika aku harus menangis…

  3. Ass wr.wb
    saya benar-benar terharu membaca kisah anda, dan sya sangat iri kepada anda sebab, anda benar-benar memiliki ibu yang benar-benar bisa membawa anda kejalan yang benar, hingga anda menjadi seperti saat ini.
    sementara saya masih selalu berharap dan berdo’a, ingin mempunyai ibu seperti ibu anda.
    sampai saat ini sayapun masih belum bisa berbakti kepada ibu/ayah saya.
    saya bingung dengan cara apa, dan harus memulai dari mana.

  4. YupZ… Yang ne “6ue bAn9eTz”


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.