Oleh: hidupbermakna | Agustus 1, 2008

Pikiranmu Adalah Dukunmu

Oleh Ade Asep Syarifuddin

 

TEMAN saya seorang ahli hypnotherapy. Tapi dia tetap berpenampilan alakadarnya, baik

pakaian, rumah dan apapun yang dia kenakan. Tidak berpakaian ala dukun dengan wewangian yang menyengat Tapi orang-orang sekitar menyebut dia seorang dukun. Mengapa, karena orang-orang yang datang kepada dia, beberapa bulan kemudian hidupnya mengalami kemajuan. Apakah dagangnya semakin laris, karirnya semakin maju atau bahkan rumahnya semakin bagus.

 

Kabar tersebut sampai juga kepada seseorang yang cukup jauh. Karena Word of Mouth (WOM)  orang tersebut sangat menyakini kesaktian teman saya tadi. Sampailah pada suatu hari ia datang ke teman saya. Sesampainya di dalam ruang tamu yang cukup terbuka, teman saya mulai membuka pembicaraan. “Apa yang bisa saya bantu Pak?” “Begini pak, saya sudah mengenal banyak tentang Bapak dari orang-orang yang saya kenal. Katanya bapak orang yang cukup pinter. Saya ingin dagangan saya laris karena selama ini terlalu banyak saingan. Intinya saya minta jimat,” tutur tamu tadi tanpa ragu-ragu mengutarakan maksudnya.

 

Teman saya termenung sejenak. Entah siapa yang menyebarkan gosip tersebut. Sampai-sampai dirinya seakan-akan diberi gelar dukun di luar sana. “Tapi saya bukan dukun pak. Saya tidak bisa apa-apa. Saya memang banyak membantu orang, tapi tidak dengan cara demikian.” Teman saya berkelit dan tidak mau untuk melakukan praktek perdukunan tadi. Tapi si tamu tadi tetap mendesak tidak mau menyerah dengan keyakinannya.

 

Dengan niat tidak mau mengecewakan tamunya, teman saya pergi ke belakang. Dia mencari kertas dan pulpen. Kertas tadi dipotong dua sebesar dua kali kartu nama. Kedua kertas tadi ditulis sebuah rumus relativitas Einstain E= mc2. Kemudian kertas tadi dibungkus kain putih dan dijahit. Sebelum diserahkan ditaburi minyak misik Arab. “Ini saya kasih rajah, yang satu ditaruh di dompet dan yang satunya dikubur di depan rumah. Insya Allah segala keinginan bisa tercapai. Demikian, dengan harapan tamuanya cepat pergi.

 

Ketika sampai di rumahnya, orang tadi membayangkan terus menerus segala keinginannya. Dia membayangkan banyak orang yang datang ke tokonya memborong semua barang yang ada. Dia juga membayangkan jumlah tabungannya terus menerus bertambah, dia membayangkan rumahnya menjadi baru dan sangat bagus, dia membayangkan kendaraannya ganti baru. Semua keinginannya dia

bayangkan hampir setiap saat tanpa henti dengan gairah yang dalam dan keyakinan yang

tinggi.

 

Tiba-tiba keajaiban terjadi. Dari bulan ke bulan omzet bisnisnya penjualannya terus menerus naik. Ada saja jalannya. Ada yang memesan barang dalam jumlah banyak, ada sekolah yang pesan buku, ada juga tetangga yang hajatan. Hampir setiap orang datang melakukan transaksi jual beli. Sampai-sampai tetangganya pada ngiri. “Wuih dukunnya dari mana ya. Mantap juga.”

***

APA sesungguhnya yang terjadi dengan pedagang tadi? Apakah karena dia diberi jimat sehingga dagangannya laris? Atau ada faktor lain yang membuat hidupnya jauh lebih beruntung ketimbang waktu-waktu sebelumnya. Setelah diteliti, orang tersebut dulu pernah memiliki usaha yang besar juga. Tapi karena satu dan lain hal usahanya bangkrut. Satu hal yang hilang dalam dirinya, dia tidak mempunyai keyakinan yang kuat untuk membangunkan dirinya sendiri. Sampai suatu ketika ia meminta jimat dari teman saya tadi.

 

Apakah ada kaitannya antara jimat dengan keberuntungan? Inilah yang perlu dikupas oleh kita semua supaya kita memahami cara kerja pikiran. Sebelum datang ke teman saya pedagang tadi tidak memiliki keyakinan kuat untuk sukses karena trauma kebangkrutan. Setelah memperoleh jimat dengan serta merta dalam pikirannya muncul keyakinan kuat untuk sukses, citra dirinya menjadi positif, percaya dirinya tinggi, komunikasinya lancar dan visualisasinya positif juga. Jadi dalam hal ini “jimat” adalah pemicu untuk membuka keyakinan.

 

Artinya apa? Artinya, sesungguhnya yang membuat orang tersebut sukses bukan jimatnya, tapi keyakinannya. Memang jalannya diberi jimat, tapi bukan jimat itu sendiri yang menjadikannya sukses. Kalau demikian, kita bisa sukses tanpa jimat? Betul sekali. Saya punya cerita lain dari seorang Kiyai. Dia Kiyai yang cukup rasional. Tapi yang namanya orang awam, tetap saja meminta petunjuk-petunjuk praktis untuk mencapai keinginan-keinginannya.Suatu hari ada tamu yang datang kepada Kiyai tadi. Tamu tadi mau ziarah ke makam Wali Songo. Dia membeberkan segala keinginannya. Kemudian dia bertanya, “Pak Kiyai, bacaan apa yang bisa mengabulkan segala keinginan saya?” Kiyai tadi dengan enteng menjawab dalam bahasa Jawa, “Baca ‘Sebisa bae’ (sebisanya saja) pak.

 

Setelah itu tamu tadi datang ke makam Sunan Gunung Djati di Cirebon. Selama ziarah dia hanya mengcapkan kata-kata “Sebisae bae, sebisae bae, sebisae bae.” Entah berapa ribu dia ungkapkan kata-kata ‘Sebisae bae’ selama ziarah dengan suatu keyakinan yang tinggi. Tiga bulan kemudian terjadi perubahan dalam hidupnya, lebih mujur, lebih makmur dan lebih baik dari sebelumnya. Sebagai ucapan terimakasih, dia datang ke Kiyai tadi. Kiyai tadi bertanya, “Wah hebat ya usahanya maju. Apa wiridannya?” Dengan polos pedagang tadi menjawab, ” Saya wiridan ‘Sebisae bae” Pak Kiyai. Alhamdulillah mujarab. Saya baca tidak kurang dari 1000 kali sehari setelah pulang ziarah,” katanya.

 

Mendengar ucapan itu Kiyai tadi cukup kaget. Maksud dia bukan kata ‘Sebisae bae’ yang

dijadikan wiridan, tapi bisanya apa. Mau Al Fatihah, Al Ikhlas, Ayat Kursi, tasbih dll.

Tanpa mengurangi rasa hormat, Kiyai tadi menambahkan. Kalau mau lebih mantap dan maju usahanya wiridnya harus diganti. “Wirid apa Pak Kiyai, saya akan menjalankan segala perintah,” katanya dengan antusias. “Yang dulu tinggalkan, ganti wiridnya dengan

Subhanallah, Alhamdulillah, Laailahaillallah, Allahuakbar. Pasti akan lebih afdol.

***

Dua kejadian di atas benar-benar terjadi yang pernah saya dengar. Saya mencoba untuk

merenungkan lebih dalam lagi yang intinya, segala keinginan manusia bisa tercapai asalkan kita mempunyai keyakinan. Persoalannya, keyakinan manusia tidak bisa datang dengan sendirinya, harus dipicu oleh sesuatu. Orang awam mungkin dengan jimat, orang beragama mungkin dengan wiridan, shalat sunnah dll. Pertanyaannya, orang yang sukses itu kan bukan hanya orang yang beragama. Orang yang tidak beragama pun bisa sukses juga, walaupun ukuran suksesnya jelas berbeda. Ini artinya, setiap orang sebenarnya memiliki potensi sukses yang luar biasa besar, tergantung bagaimana cara memanfaatkan pikirannya.

 

Bagi kelompok orang-orang rasional dan taat beragama bisa saja jimat-jimat pemicu keyakinan tadi diganti dengan beberapa ujud lain. Misalnya saja, yang menjalankan puasa sunah Senin-Kamis maka usahanya akan lancar, yang shalatnya khusuk maka akan dimudahkan dalam hidup, yang rajin shalat tahajud maka tidak ada yang bisa menghalangi keinginannya dll.

Tapi intinya harus ada pemicu pikiran di mana kita yakin akan mendapatkan sukses kalau

menjalani sesuatu. Di sini dalam pikiran kita muncul hukum sebab akibat. Kalau menjalankan ini maka akan sukses. Keyakinan yang dimunculkan dalam bentuk kalimat, “Kalau menjalankan ini atau mempunyai ini maka akan sukses” itulah sejatinya yang menjadikan seseorang benar-benar sukses. Inilah yang dinamakan –dalam bahasa saya– Jimat afirmasi, Jimat kata-kata. Setiap orang bisa membuat sesuai dengan tingkat keyakinannya.

 

Sebenarnya ini termasuk hukum universal, hukum pikiran yang berlaku bagi siapa saja. Siapa yang membayangkan dan menginginkan sesuatu secara sungguh-sungguh, maka yang dibayangkan tadi bisa terwujud. Belakangan populer dengan Hukum Tarik Menarik atau Law of Attraction (LoA). Hukum ini benar-benar menjadi inspirasi bagi semua orang bahwa segala yang terpikir di dalam pikiran kita, apakah sadar atau tidak kita memikirkan hal tersebut, maka yang kita pikirkan tadi bakal terwujud. Menarik bukan?

 

Walaupun hukum-hukum tersebut yang mempopulerkan adalah orang-orang yang datang dari Barat, pemikir sekuler, sebenarnya di Indonesia pun sudah ada sejak lama. Hanya kemasannya yang agak berbau mistik dan irasional. Padahal kalau kita kejar lebih jauh lagi, maka secara prinsip cara kerjanya tetap sama. Alhasil, dukun kita adalah pikiran dan hati kita sendiri.

Tidak usah jauh-jauh mencari dukun yang sakti. Apapun yang kita inginkan dapat tercapai. Ini berlaku untuk meningkatkan omzet perusahaan, modal bagi para pelaku marketing dalam menjalankan usahanya. Jadi sebelum bertemu orang, milikilah keyakinan akan berhasil dengan cara membayangkan terjadi deal-deal bisnis dengan orang yang kita tuju. Terimakasih. (*)

 

*) Penulis adalah Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan. Bisa dihubungi di

asepradar@gmail.com atau di http://hidupbermakna.wordpress.com.

Oleh: hidupbermakna | Juli 31, 2008

Matematika Tuhan Berbeda dengan Matematika Manusia

Oleh A Asep Syarifuddin

MANAGER akuntansi di kantor saya bilang, bulan ini cukup banyak pengeluaran. Sehingga kas keuangan menipis. Laba pun bisa jadi berkurang. Salah satu cara untuk menutupi kondisi tersebut harus meningkatkan omzet. Itulah logika Matematika manusia. Semakin banyak pengeluaran, semakin tipis omzet keuangan. Ketika jumlah angka 10 dikurangi angka 5 maka hasilnya akan menjadi angka 5.

Tapi saya mempunyai pengalaman berbeda, sampai saya menyimpulkan bahwa Matematika Allah berbeda dengan Matematika manusia. Saat itu saya ditelepon oleh seorang teman yang mau mengadakan pelatihan shalat khusuk. Ajakan dia belum bisa menjawab bisa atau tidak karena dua hari sebelumnya saya pergi ke luar kota. Namun setelah kontak sana sini dan ada kepastian bisa, saya menjawab ya.

Setelah itu dia SMS lagi bahwa dalam acara tersebut diundang juga anak yatim sekitar 50 orang. Dia memberikan kesempatan kepada saya untuk bersodakoh dan menyantuninya. Saya hanya bisa menjawab, “Nanti saya kabari pak,” karena saya tidak memegang uang dalam sejumlah itu. Segala pengeluaran keuangan untuk kepentingan eksternal harus diskusi dulu dengan isteri di rumah.

Setelah meyakinkan isteri, akhirnya dia mengerti. Sejumlah uang disisihkan di dalam sebuah amplop. Saya niatkan untuk membantu anak yatim lillahita’ala. Jumlahnya tidak seberapa, tapi niat untuk mengeluarkan dalam kondisi anggaran yang sudah jelas postingnya membutuhkan keyakinan di luar logika manusia. Isteri saya malah berdoa, Allah pasti tahu apa yang kita butuhkan. Setelah menyerahkan uang tersebut kemudian saya melupakan begitu saja.

Keesokan harinya ada SMS dari seseorang yang saya kenal yang menyuruh mengambil uang honor saya mengerjakan suatu even. padahal saya tidak berharap memperolehnya. Berapakah jumlahnya? Jumlahnya tiga kali lipat dari yang saya berikan kepada anak yatim. Isteri saya kaget dan takjub, baru kemarin mengeluarkan untuk anak yatim, keesokan harinya langsung diganti. Subhanallah. Ternyata berbisnis dengan Allah tidak pernah merugi, berbisnis dengan Allah selalu diganti dengan nilai yang lebih besar. Mungkin nilainya memang berbentuk material, mungkin juga berbentuk imaterial. Apakah kebahagiaan, kedamaian, dll.

Dari sini saya semakin yakin bahwa Allah Maha Kaya, Allah Maha Tahu segalanya kebutuhan kita. Jangan segan-segan untuk memberikan sesuatu yang kita miliki untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Semakin banyak memberi, semakin banyak menerima. Kita ambil contoh pipa paralon yang diisi air secara terus menerus, maka aliran air di dalam pipa tersebut akan berjalan dengan lancar. Coba kalau pipa tersebut disumbat dengan alasan mengumpulkan air lebih banyak, maka yang terjadi malah sesuatu yang tidak kita inginkan datang kepada kita. Mungkin pipa tersebut akan pecah karena tidak dapat menahan deras air yang cukup besar atau air yang ada di hulu tumpah ke sana kemari.

Dari pengalaman tersebut sampai-sampai saya bergurau kepada Manager Keuangan di kantor dengan bertanya, mau berapa omzet kantor bulan ini? Rp200 juta, Rp300 juta? Mudah saja, kata saya. Kita berbisnis dengan Allah. Dia akan mengganti bisnis kita denganNya 10-100 kali lipat asalkan kita yakin. Artinya keyakinan kita di angka berapa uang yang kita saving untuk kepentingan shodakoh akankembali. Kalau asumsi uang yang bakal kembali adalah 50 kali lipat, sementara omzet yang kita inginkan adalah Rp 250 juta, maka bulan tersebut kita harus bersodakoh Rp 5 juta. Berani untuk melakukan langkah tersebut? Manager Keuangan hanya senyum-senyum saja. Logika akuntansi dia jauh lebih dominan ketimbang logika Matematika Tuhan.

Kalau kita yakin, itu bakal terjadi. Apalagi Allah tidak pernah berbohong kepada makhluknya. Bagi yang belum mencoba bisa jadi angka tersebut terasa berat karena terlalu besar. Sodakoh kok terlalu besar? Memang ada kebiasaan jelek di antara kita, kalau mau sodakoh pasti mengambil uang yang paling kecil nilainya. Ketika di dompet ada Rp 100 ribu, Rp 50 ribu, Rp 10 ribu dan Rp 1 ribu, maka Rp 1 ribu lah yang dikeluarkan untuk bersodakoh. Memang tidak menjadi masalah, tapi yang balik kepada kita pun akan kecil pula nilainya.

Coba kita menggunakan logika lain yang lebih sederhana. Kalau kita memancing pakai cacing di kolam, biasanya ikan yang kita dapatkan paling besar ikan gurame. Sementara kalau kita memancing ikan di laut menggunakan udang, yang harganya jauh lebih mahal dari cacing, kemungkinan besar kita bisa mendapatkan ikan kakap atau lebih besar lagi.

Contoh lain, bisnis UKM dengan kecil, dengan bisnis Franchise dengan modal besar. Kemungkinan mendapatkan keuntungan jauh lebih besar adalah dari bisnis Franchise. Tinggal persoalannya adalah, apakah kita yakin dengan modal yang kita keluarkan, atau kita tidak yakin. Tapi kalau kita lihat, semakin banyak memberi semakin banyak menerima sudah masuk ke dalam hukum universal. Artinya, siapapun yang melakukan langkah itu maka akibatnya sudah jelas.

Mengapa belum banyak orang yang berbisnis dengan Tuhannya? Di sinilah sifat manusia yang masih menggunakan logika manusianya dan tidak beranjak untuk menoleh logika invisible hand yang hasilnya jauh lebih besar dari itung-itungan manusia. Semoga menjadi inspirasi. (*)

Oleh: hidupbermakna | April 29, 2008

Peran dan Posisi Media dalam Gerakan Buruh

Buruh

Oleh A Asep Syarifuddin

DILIHAT dari tipikal ekonomi masyarakat Pekalongan, sangat memungkinkan profesi masyarakatnya adalah buruh atau pekerja. Hal ini disebabkan karena cukup banyaknya pabrik-pabrik tekstil, pabrik benang dan konveksi yang memungkinkan banyaknya tenaga kerja secara massif bekerja di pabrik tersebut.

Pekerja atau buruh yang saya maksudkan dibatasi kepada kelompok buruh pabrik, super market dan yang sejenisnya. Sebenarnya kalau kita maju jujur, meminjam Cashflow Quadrannya Robert T Kiysoki yang disebut buruh atau pekerja adalah orang-orang yang bekerja pada orang lain dengan transaksi tertentu dan mendapatkan upah sejumlah tertentu dalam kurun waktu tertentu. Sebelum memiliki bisnis dengan sistem tertentu tetap saja posisinya sebagai pekerja atau buruh.

Kalau konteksnya menurut Kiyosaki maka PNS pun termasuk buruh. Apakah mau PNS dikategorikan buruh? Kita harus bertanya kepada PNS nya sendiri. Untuk tidak memunculkan debat semantik, maka saya akan membatasi dalam wilayah buruh dalam pengertian yang lebih luas. Siapapun orang yang bekerja kepada majikan, baik perusahaan yang memiliki badan hukum, perusahaan keluarga, atau perusahaan negara, maka itulah kategori buruh.

Dalam prakteknya perusahaan belum menghargai karyawan atau pekerjanya atau buruhnya sebagai bagian dari investasi. Tapi lebih banyak kepada eksploitasi tenaga untuk kepentingan produksi. Kalau sudah begini jadinya maka posisi buruh sangat tidak memiliki posisi strategis. Kapan pun perusahaan mau, bisa dipakai dan kapan pun perusahaan sudah tidak membutuhkan, tidak akan dipakai. Walaupun tidak ada alasan yang signifikan untuk memecat buruh tersebut.

Di manakah posisi media massa menghadapi gejolak buruh yang diperlakukan sewenang-wenang? Apakah akan berpihak kepada buruh atau berpihak kepada majikan?

Sebelum menjelaskan lebih jauh tentang keberpihakan media massa kepada pekerja atau majikan, terlebih dahulu harus dipahami tipikal bisnis media. Secara sederhana bisnis media tidak identik dengan bisnis berita. Tapi lebih tepatnya adalah bisnis integritas. Mengapa bisnis integritas? Sebab hanya media massa yang memiliki integritaslah yang dapat survive dan dipercaya terus oleh masyarakat pembacanya.

Bila terjadi distorsi informasi, apa yang terjadi di lapangan tidak sesuai dengan berita yang ditayangkan, maka tunggu saja waktunya pembaca tidak percaya lagi kepada media massa tersebut. Bila pembaca sudah tidak percaya, ini artinya tidak ada lagi yang membeli koran, tidak ada yang menonton televisi lagi.

Contoh sederhana, di DPRD terjadi demonstrasi buruh besar-besaran. Kemudian di koran atau televisi dituliskan atau diberitakan bahwa di DPRD tidak terjadi apa-apa, hanya kumpul-kumpul biasa saja. Keesokan harinya, orang-orang yang merasa demo akan membaca koran dan menonton televisi. Bila beritanya tidak sesuai dengan kenyataan, maka sejumlah orang yang demo tidak akan percaya lagi kepada koran tersebut.

Bisa dibayangkan kala peristiwa serupa sering terjadi, sementara berita yang muncul tidak sesuai dengan fakta, maka kepercayaan masyarakat lambat laun menghilang. Dan media tersebut tinggal namanya saja. Dengan demikian, taruhannya sangat berat apabila bermain-main dengan berita, bermain-main dengan fakta. Satu atau dua hari bisa saja tidak terasa dampaknya. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, media massa terus menerus melakukan kebohongan pada publik, jangan salahkan siapa-siapa kalau ada koran yang tutup tinggal papan nama.

Saya bisa mengatakan bahwa, siapa pun orangnya yang aktif di media massa, terutama wartawan yang memiliki integritas, maka keberpihakan mereka adalah keberpihakan kepada fakta dan khalayak. Hanya wartawan yang tidak ingin dipercaya pembacanya sajalah yang mengutak-atik kata-kata yang tidak sesuai dengan fakta.

Godaan Wartawan
Namun demikian, wartawan juga manusia, selalu menghadapi godaan, bujukan, rayuan, bahkan ancaman yang bisa membahayakan keselamatan wartawan itu sendiri. Fakta yang ada di lapangan tidak selamanya disukai oleh semua orang. Demonstrasi besar-besaran dalam skala massif oleh orang-orang tertentu dianggap sesuatu yang berbahaya, apalagi kalau masuk media massa, gaungnya lebih besar. Sebelum ini terjadi, maka teror dan ancaman bisa saja terjadi dan dihadapi oleh wartawan.

Bagi wartawan, ketika menghadapi ancaman tersebut banyak reaksi yang dilakukan. Tidak semuanya tahan terhadap godaan dan ancaman tersebut. Di sinilah sebenarnya ujian journalisme muncul. Bila medianya sudah tidak memiliki gigi, maka masyarakatnya akan tamat.

Gerakan buruh di Pekalongan yang cukup besar dalam waktu terakhir adalah ketika Mahatex dan Mafahtex menyatakan diri bangkrut dan tidak dapat membayar upah buruhnya. Gelombang protes dan demonstrasi pun hampir menjadi pemandangan rutin setiap minggu. Berita-berita di media massa pun banyak menyuarakan kepentingan kelompok buruh.

Media massa seolah tidak memiliki beban untuk memberitakan peristiwa tersebut. Memang media massa salah satu tugasnya adalah memberi opini publik, sehingga muncul rasa simpatik dari semua kalangan masyarakat. Tapi memang ada kelemahan media. Media tidak memiliki otoritas untuk mengusung suatu kasus sampai selesai. Apabila yang bersangkutan tidak melakukan gerakan, media tidak bisa membuat-buat berita, walaupun persoalannya belum selesai.

Akan lebih baik lagi kalau ada semacam jalinan komunikasi antara wartawan media massa dengan kelompok buruh. Sehingga media akan memahami arah gerakan buruh di Kota Pekalongan ini mau ke mana. Inilah kontribusi kecil media massa yang bisa dilakukan untuk mendorong kesadaran kelompok buruh dan menyadarkan pemilik modal supaya tidak sewenang-wenang kepada para pekerjanya.

Intinya, media massa sangat konsen terhada persoalan-persoalan buruh dan ketenagakerjaan. Kita siap untuk memback up buruh sesuai dengan kapasitas yang kita miliki. Selamat. (*)

Pekalongan, 28 April 2008

*) Penulis adalah Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan.

Oleh: hidupbermakna | November 22, 2007

Kebahagiaan “Internal” dan “Eksternal”

Oleh A. ASEP SYARIFUDDIN

KAPAN Anda merasa bahagia? Apakah ketika memperoleh hadiah? Abis bulan? Mendapatkan ucapan selamat? atau… Semua itu bisa menjadikan kita bahagia karena ada stimulus dari luar yang membuat kita dapat memenuhi kebutuhan. Tapi bagaimana ceritanya ketika semua yang datang kepada kita itu habis? Hilang? Lenyap atau tidak lagi menjadi milik kita? Sudah tentu bila sumber kebahagiaan tersebut tidak ada maka yang muncul adalah ketidakbahagiaan. Dengan sendirinya kita harus mengejar kembali sesuatu yang dapat membuat kita bahagia tadi. Apakah ini model kebahagiaan yang salah? Tidak juga, tapi kalau Anda merasa bahagia karena sesuatu yang datang dari luar, maka siap-siap saja untuk kecewa karena sesuatu yang datangnya dari luar tidak abadi sifatnya. Ironisnya model kebahagiaan seperti ini nyaris diyakini oleh 80% orang kebanyakan yang hidup di dunia ini.

Lantas apakah ada model kebahagiaan yang lain? Ada dan ini sifatnya abadi. Model kebahagiaan kedua adalah kebahagiaan “internal”. Kebahagiaan ini datangnya dari dalam diri kita dan bukan dari luar diri kita. Tapi bagaimana caranya kita memiliki model kebahagiaan seperti ini? Kayanya susah tuh untuk merealisasikannya. Lagian kebanyakan orang bisa merasakan kebahagiaan apabila mencapai sesuatu dan mengejar hal lain bila sesuatu itu sudah tercapai. Kita bisa mencapai kebahagiaan internal dan kabar gembiranya, bila kita memiliki kebahagiaan internal, maka kebahagiaan eksternal bisa tercapai. Sementara bila hanya mencapai kebahagiaan eksternal, maka kebahagiaan internal tidak bisa dimiliki. Caranya sederhana, ciptakan batin kita menjadi bahagia. Caranya bermacam-macam, salah satunya dengan selalu memiliki rasa bersyukur.

Coba hitung, anugerah yang sudah kita peroleh sejak lahir sampai sekarang. Kita diberi nikmat hidup, bentuk tubuh yang indah, bernafas, diberi mata, diberi hidung, mulut, lidah, paru-paru, jantung, ginjal, hati, pikiran. Belum lagi di luar kita, kita memiliki orang tua, saudara, tetangga dll. Allah Swt sudah memberikan segala kebutuhan kita di dunia ini lengkap dengan segala fasilitasnya. Apakah masih kurang segala sesuatu yang sudah diberikan kepada kita? Kayanya kita memang kurang memiliki rasa bersyukur atas hal-hal di atas yang selama ini sudah menopang hidup kita. Cobalah satu per satu kita syukuri, maka hasilnya akan sangat luar biasa bahagia.

Ya Allah …
Aku bersyukur hari ini masih diberikan kesempatan untuk hidup.
Aku bersyukur hari ini masih bisa bernafas, terimakasih hidung, terimakasih paru-paru, terimakasih oksigen, terimakasih matahari dan pepohonan yang sudah mengubah karbondioksida menjadi oksigen dan udara bersih di pagi hari.
Aku bersyukur diberikan kesehatan, sehingga aku bisa menjalankan aktifitas sehari-hari.
Aku bersyukur atas segala nikmat yang sudah diberikan kepadaku baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Betapa banyaknya, dan aku tidak bisa menghitungnya.
Terimakasih Tuhan, terimakasih alam, terimakasih anggota tubuhku, terimakasih alam, aku sayang kepadamu, aku mencintaimu.

Ucapkan kata-kata di atas dalam suasana hening, penuh dengan perasaan, bayangkan semuanya memberikan ucapan selamat kepada Anda, menepuk-nepuk bahu Anda, bersalaman kepada Anda. Tuhan pun tersenyum melihat Anda penuh rasa syukur dan Dia berjanji akan menambah nikmat-nikmat yang lain walaupun tidak kamu minta. Subhanllah…. Cara lain yang biasa saya lakukan adalah bangun malam untuk shalat Tahajud dan tadarus al Quran. Agar dipermudah bangun malam baca tulisan saya yang berjudul ‘Berdamai dengan Diri Sendiri’. Ada satu perasaan bahagia yang tiada tara ketika membuka mata pada pukul 03.00. Sambil mengucapkan alhamdulillah aku bangun dengan penuh senyum dengan perasaan Allah juga senang melihat hambanya bangun di malam hari.

Aku ambil air wudlu, kubasuh satu per satu anggota rukun wudlu sampai selesai. Kuambil sajadah, kain sarung dan baju sopan yang bersih serta mengenakan tutup kepala. Allahu Akbar…. Kuucapkan kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa di keheningan malam. Lagi-lagi aku melihat Tuhan tersenyum lebar, gembira melihat hambanya bertafakur, berdoa, bermunajat, merendahkan diri, bersujud di depan Sang Pencipta. “Sesungguhnya shalatku, hidup dan matiku hanyalah milik Allah, tidak ada sekutu bagiMu.” Ayat demi ayat dilantunkan secara perlahan, benar-benar terasa nikmat dan lapang dada ini. Ketika aku ingat dosa-dosaku tak terasa air mata pun berlinang, apakah Allah masih mau untuk memaafkanku? Padahal dosa selama hidup baik yang terasa maupun yang tidak terasa jumlahnya sangat banyak. Aku pasrahkan kepada kebesaran Zat Yang Maha Pengampun, mudah-mudahan masih mau untuk mengampuni hamba yang dzalim ini.

Saya benar-benar menikmati gerakan demi gerakan salat sampai salam. Lagi-lagi entah mengapa rasa bahagia tersebut seolah masuk ke dalam diri dan memeluk erat-erat seakan tidak mau terlepas dari batin dan tubuhku. Setelah berdoa aku ambil HP untuk mengirimkan SMS kepada teman-temanku yang biasa qiyamullail atau kepada siapa saja yang sekiranya kukenal. Siapa tahu dia terbangun dan menjalankan shalat malam juga. Isinya kira-kira, “Ass wr wb. Dengan segala kerendahan hati, marilah kita menyerahkan diri kepada Zat Sang Maha Pencipta untuk shalat malam, tadarus al Quran.” Kalau kebetulan hari Senin atau Kamis pagi ditambah dengan kata-kata, …. bagi yang berniat Puasa sunah Senin atau Kamis dipersilakan untuk makan sahur.” Kemudian aku kembali shalat sampai beberapa kali takbiratul ihram dan salam.
Selesai shalat ada yang membalas SMS tersebut. Muncul lagi perasaan bahagia karena bisa berbagi kebahagiaan dengan sesama. Usai shalat dilanjutkan dengan tadarus Al Quran sampai datang waktu solat Subuh.

Keesokan harinya rasa bahagia tersebut menjadi teman sampai sore hari bahkan sampai malam harinya lagi. Ketika berjalan seakan-akan alam menyapa dan senyuman dan lambaian. Semuanya tersenyum, semuanya melambai, semuanya mendukung. Kondisi seperti itu benar-benar mempengaruhi kita ketika berkomunikasi dengan orang-orang. Terlihat penuh semangat, antusias, percaya diri dan yang lebih penting muncul ketulusan dalam berbagai bentuk pembicaraan. Pekerjaan tidak terasa sebagai beban tapi terasa senang menjalankannya. Kebahagiaan internal benar-benar dapat mempengaruhi kondisi eksternal dan akhirnya bisa mencapai kebahagiaan eksternal. Sampai di sini saya dapat mengambil kesimpulan, apabila kita menggapai kebahagiaan internal, maka kebahagiaan eksternal dengan sendirinya dapat dicapai. Memang untuk mencapai kebahagiaan ekstrnal berupa materi membutuhkan waktu. Sesuatu kalau ingin terwujud secara materi ada hukum-hukum tersendiri yang tidak bisa dilawan. Misalnya saja, kalau kita ingin berhasil sudah tentu kita harus ulet, rajin, konsisten dan berusaha terus menerus. Demikian juga kalau ingin mencapai yang kita inginkan, ada jeda waktu untuk mencapainya. Tapi kalau kondisi kita berada dalam positif feeling, maka waktu tersebut tidak menjadi masalah asalkan bisa tercapai. Kita memiliki sikap sabar dan tawakal. (*)

Hidup Penuh Makna, Bahagia,
Damai dan Sejahtera

Sukses Selalu
Pekalongan, 22 November 2007

A. ASEP SYARIFUDDIN
http://hidupbermakna.wordpress.com
http://groups.yahoo.com/group/hidup-bermakna/join

Oleh: hidupbermakna | November 18, 2007

From Nervous to Self Confidence

Oleh A. ASEP SYARIFUDDIN

UNTUK menjadi pribadi yang sukses, menyenangkan, pandai bergaul dibutuhkan rasa percaya diri yang tinggi. Kadang kita terkagum-kagum melihat orang piawai berpidato di depan podium. Kata-katanya berapi-api mempengaruhi massa untuk mengikuti jalan pikirannya. Tidak semua orang pandai bergaul, pintar berkomunikasi baik di podium maupun inter personal. Jauh di ujung sana masih banyak orang yang minder untuk bertemu dengan orang banyak, kaku dalam berbicara bahkan sampai bersimbah peluh hanya ketika diajak ngobrol dengan seseorang. Jangankan untuk berargumentasi dan beradu pendapat, jangankan dengan mudah mengucapkan maksud hati. Bertahan di depan orang tersebut saja sudah untung. Ingin rasanya melarikan diri dan mencari tempat sepi. nervous… nervous.

Apakah Anda termasuk orang yang demikian? Sukurlah kalau tidak, berarti sudah terjadi lompatan kualitas mental dalam berkomunikasi. Tapi orang yang masih gugup menghadapi orang, jumlahnya masih cukup banyak. Saya sendiri ketika usia-usia SMA sampai awal-awal perkuliahan masih mengalami nervous, grogi alias deg-degan dan keringetan kalau menghadapi orang. Apalagi yang dihadapi adalah cewek atau orang yang berpengaruh. Wah rasanya ingin melarikan diri saja secepatnya. Sebenarnya apa yang terjadi saat itu?

Dilihat dari pola pergaulan, saya termasuk orang introvet. Istilah anak muda sekarang gak gaullah…. Aktifitas sehari-hari sudah ada dalam program yang jelas mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Dan dalam jadwal tersebut tidak mencantumkan bermain dengan teman-teman. Semuanya belajar dan bekerja. Rasanya ketika duduk di belakang meja dan baca buku, saat-saat itulah waktu yang paling membahagiakan. Secara prestasi akademis memang diakui berada di atas rata-rata teman-teman yang lain. Teman-teman selalu meminta contekan kalau sedang ulangan atau ujian semesteran. Di balik nervous dalam bergaul tersebut saya sedikit “Pede” di dalam kelas. Tetapi ketika ke luar kelas, lagi-lagi penyakit minder tersebut menemani hari-hariku. Hanya self talk (berbicara kepada diri sendiri) yang kurang pas saat itu yang keluar ketika melihat betapa asiknya teman-teman ngobrol dengan orang-orang baru. Saya bergumam, “Biarlah mereka pandai bergaul, tapi kalau ujian kan nyontek juga ke saya.”

Salah satu upaya untuk membuat percaya diri saya sering ngobrol di depan cermin sambil melihat ekspresi ketika berbicara. “Lumayan juga nih gue bisa ngomong agak bener,” tuturku dalam hati. Waktu itu ayah saya setiap minggu punya jadwal ceramah di majelis taklim. Karena berbagai kesibukan akhirnya saya yang harus menggantikan. Untung yang hadir saat itu adalah ibu-ibu yang memiliki pengetahuan pas-pasan. Kalau salah-salah dikit tidak mungkin protes. Kegiatan tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama, sampai sekitar 3 tahun. Dari situ percaya diri saya naik sekitar 50%. Kok 50% mengapa? Benar, hanya 50%, karena ketika harus komunikasi inter personal lagi-lagi saya tidak bisa berkutik. Kembali nervous itu muncul. Dalam pikiran saya orang lain terlihat jauh lebih hebat ketimbang saya. Wah… capek deh…

Setelah dilihat secara seksama, persoalannya terletak pada beberapa hal yang keliru. Misalnya saja, saya tidak terlalu menghargai diri saya sendiri. Artinya, saya menilai diri tidak secara utuh. Benar setiap orang ada plus dan minusnya, tapi yang terlihat saat itu adalah segala yang minus tentang diri saya (kecuali prestasi akademis). Citra diri masih belum utuh, apalagi harga diri. Akhirnya tidak memunculkan rasa percaya diri. Ada pengalaman lucu kalau dipikir sekarang. Saat itu mau berangkat sekolah (SMA) memakai angkutan umum. Karena saya ingin belajar ngobrol, maka saya meniatkan diri untuk bertanya kepada orang yang berada di samping. Ketika dilihat ternyata dia anak SMA juga dan cewek. Niat untuk bertanya dihentikan, jangan-jangan dia tidak akan menjawab pertanyaan saya. Tapi muncul kembali keinginan untuk menyapa sebagai latihan ngobrol. Demikian terus menerus keinginan untuk ngobrol dan rasa tidak pede muncul secara bergantian. Sampai mobil tersebut berhenti dan saya turun tidak satu kata pun keluar dari mulut saya. Ada kelegaan yang terasa ketika turun, persis seperti selesai menghadapi debt collector yang sangat seram.

Waktu demi waktu persoalan self confidence masih tetap mengganggu. Sampai suatu ketika saya belajar tentang buku-buku sukses. Di dalamnya mengkaji tentang percaya diri. Percaya diri tidak muncul begitu saja, bukan karena mempunyai sesuatu seperti mengenakan pakaian yang bagus, dandanan yang oke dll. Percaya diri ada pada penghargaan yang sama baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Dalam al Quran sendiri orang yang paling mulia adalah yang paling takwa. Selain itu hormatilah sesama, hormatilah diri sendiri, hormatilah alam, hormatilah siapa saja yang harus kita hormati.

Tapi di samping itu memang latihan terus menerus dengan cara bertemu dengan orang yang berbeda setiap hari menjadi titik kunci yang paling penting. Yang harus diingat dalam mengubah watak, apabila ada sesuatu yang kita ‘takuti’, maka yang ditakuti tersebut harus didekati. Kalau takut kepada orang untuk berkomunikasi, maka mulailah untuk berkomunikasi dari sekarang. Tidak peduli apakah keringetan, gemeteran, nervous. Memang kalau ketemu orang harus disiapin juga mau bicara apa dengan orang tersebut supaya langsung bisa nyambung. Tapi dengan latihan secara terus menerus maka hal itu bisa dilampaui.

Dulu saya yang grogi, nervous dll, sekarang paling suka ngomong di forum, paling senang ngerjain orang, paling pede kalau humor dengan teman-teman. Ketika membayangkan dulu saat-saat kegrogian masih menjadi teman sehari-hari rasanya tidak percaya kalau sekarang bisa se-pede ini. Bagi yang belum menemukan self confidence, jangan khawatir. Banyak orang yang mengalami hal tersebut tapi kemudian bisa lolos dari kubangan nervous. Asalkan mau belajar dan memulai untuk berkomunikasi. (*)

Hidup Penuh Makna, Bahagia,
Damai dan Sejahtera

Sukses Selalu
Pekalongan, 18 November 2007

A. ASEP SYARIFUDDIN
http://hidupbermakna.wordpress.com
http://groups.yahoo.com/group/hidup-bermakna/join

Oleh: hidupbermakna | November 16, 2007

Belajar di UK

Oleh A ASEP SYARIFUDDIN

ALANGKAH bahagianya kalau kita berkesempatan untuk belajar di UK (United Kingdom). Untuk S-1 memakan waktu sekitar 4 tahun, sementara untuk program master sekitar 1-2 tahun. Tidak diragukan lagi produk-produk luar negeri apalagi lulusan Universitas di Inggris, banyak perusahaan yang mengincaruntuk berbagai posisi. Pekerjaan yang mengejar-ngejar Anda, bukan Anda yang mengejar-ngejar pekerjaan. Apakah semuanya memiliki kesempatan untuk belajar di sana? Hanya sebagian kecil saja. Tapi jangan kecil hati dulu, siapapun memiliki kesempatan untuk belajar di UK, tapi UK yang saya maksud bukanlah United Kingdom, namun “Universitas Kesulitan”. Kawan saya bilang Hard University. Benar, Universitas Kesulitan. Mau berapa lama Anda belajar di sana, bisa ambil program S-1 atau S-2 bahkan S3. Waktunya tidak jauh berbeda dengan di Universitas pada umumnya.

Saya mempunyai pengalaman langsung belajar di Universitas Kesulitan (UK) selama 3 tahun. Waktu itu saya diminta pindah bekerja dari satu tempat ke tempat lain. Sebelumnya saya tidak pernah tahu seperti apa kondisi tempat kerja saya yang baru. Memang ada orang yang bilang miring tentang situasi kerja di sana. Tapi saya tidak percaya begitu saja sebelum membuktikan sendiri. Siapa tahu orang yang bilang miring tadi memang selalu negatif di mana pun dia bekerja. Ketika saya datang ke tempat baru memang agak berbeda dengan tempat kerja yang lama terutama situasi kerja, rasa kebersamaan, dan yang lebih parah lagi adalah pola manajemen.

Saya di sana diberi posisi sebagai pemimpin umum. Tapi dalam kenyataannya saya sendiri tidak memiliki kebijakan sebagai pemimpin umum untuk membuat perusahaan tersebut jauh lebih maju dengan pola-pola manajemen saya. Nyaris semua kebijakan, terutama yang berhubungan dengan keuangan dalam jumlah kecil apalagi besar harus atas persetujuan big bos yang juga pemilik perusahaan tersebut. Tapi kalau ada kesalahan jangan tanya, semuanya ditimpakan kepada saya sebagai pemimpin umum. Wah gimana ini, kok jadi begini. Terkadang ada keinginan untuk segera mengakhiri bekerja di sana agar tidak lagi menghadapi situasi kerja yang serba salah. Tapi niat itu diurungkan karena saya sudah berkeluarga dan punya anak.

Satu tahun pertama saya beradaptasi dengan tempat baru tersebut belum memunculkan warna baru dalam pola manajemen. Kondisinya masih seperti itu-itu juga. Kesulitan tersebut saya coba komunikasikan dengan teman-teman di sana, tapi mereka juga mempunyai persoalan yang sama. Bahkan di awal saya masuk dalam suatu rapat salah seorang di antara mereka pernah nyeletuk, apakah sudah tahu kondisi di sini seperti ini. Saya bilang sudah tahu. Tapi pengetahuan itu memang berbeda dengan pengalaman. Pengetahuan itu nyaris mengerti tanpa ada resiko apapun. Sementara pengalaman itu adalah sesuatu yang terjadi di depan mata kita dan resikonya akan terasa langsung terutama resiko-resiko psikologis.

Menginjak tahun kedua saya menemukan sebuah buku yang cukup bagus. Judulnya Piece of Mind karya Sandy McGregor. Dalam pandangan saya buku itu sangat bagus karena diri kita memiliki kuasa untuk mengubah sesuatu yang ada di luar lewat visualisasi untuk mengaktifkan kekuatan alam bawah sadar. Saya lakukan satu per satu perubahan dalam skala yang kecil sampai skala yang agak besar. Caranya sederhana, inventarisir tujuan apa dalam jangka pendek dan jangka panjang. Setelah ditemukan maka ada skala prioritas tujuan-tujuan. Yang saya masih ingat betul saat itu adalah visualisasi kenaikan gaji. Saya menetapkan sebuah angka kenaikan. Menurut logika realistis saat itu angka tersebut tidak mungkin terjadi apalgi disetujui. Tapi karena keyakinan saya terhadap kekuatan alam bawah sadar tadi saya bayangkan terus menerus (mungkin ini yang namanya doa secara benar) terutama setelah selesai shalat dan di sepertiga malam menjelang berakhir. Saya takjub, alhamdulillah entah bagaimana caranya kenaikan gaji tersebut persis seperti yang saya gambarkan (doakan).

Dari sana muncul keyakinan-keyakinan bahwa tidak ada sesuatu yang mustahil untuk berubah asalkan memang kita mau untuk membayar harganya untuk melakukan perubahan. Dari sana saya pun mulai berkenalan dengan literatur-literatur lain tentang pengembangan diri, motivasi dalam jumlah banyak. Dan perjumpaan yang cukup mengesankan dalah bertemu dengan seorang dosen yang mengkaji NLP (Neuro Linguistic Programming). Dia belajar NLP di Australia. Di saya belajar banyak, bagiamana cara mencapai tujuan, melatih diri untuk terampil dengan ilmu-ilmu kehidupan, dll. Bahkan saya sampai menjadi trainer dan consultant sumber daya manusia (SDM) untuk pengembangan diri. Banyak teman-teman yang meminta advis tentang persoalan-persoalan mereka.

Situasi di kantor tempat saya bekerja sebenarnya tidak terlalu banyak perubahan. Tapi dengan mempelajari beberapa hal di atas cara pandang saya terhadap persoalan sedikit bergeser. Yang muncul bahkan pendapat, segala sesuatu yang terjadi pada diri kita pasti memiliki hikmah tersembunyi di kemudian hari untuk kebaikan kita. Saya rasakan itu semua. Tapi ceritanya harus berjalan lain, saya akhirnya pindah juga dari tempat kerja tersebut ke tempat lain yang sama sekali baru. Dengan segala pikiran yang positif saya berprinsip ke manapun dan di mana pun saya bekerja, saya siap untuk melaksanakan dengan sebaik-baiknya. Bahkan setelah di tempat baru tadi saya menyadari bahwa saya sudah belajar banyak tentang berbagai macam hal ilmu kehidupan, manajemen, leadership, marketing, komunikasi, psikologi manusia, ESQ, EQ dll. Terimakasih ya Allah atas anugerahmu dalam memberikan kesempatan untuk sekolah di UK. (*)

Hidup Penuh Makna, Bahagia,
Damai dan Sejahtera

Sukses Selalu
Pekalongan, 16 November 2007
 
A. ASEP SYARIFUDDIN
http://hidupbermakna.wordpress.com
http://groups.yahoo.com/group/hidup-bermakna/join

Oleh: hidupbermakna | November 15, 2007

Berdamai dengan diri Sendiri

Oleh A. ASEP SYARIFUDDIN

UNTUK mengubah suatu kebiasaan di dalam diri kita tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu kerja keras, upaya yang sungguh-sungguh dan bahkan pemaksaan. Seakan-akan kita harus berperang dulu melawan diri sendiri untuk menjadi lebih baik dari habit sebelumnya. Benarkah sesulit itu? Bisa ya, bisa juga tidak.

Saya mempunyai experient yang cukup menarik. Waktu itu saya ingin mencoba membiasakan diri untuk bangun malam untuk shalat tahajud. Sulitnya setengah mati. Saya bangun jam 3 pagi tapi untuk berwudlu dan shalat rasanya sangat berat. Akhirnya shalat tidak ada maknanya sama sekali. Selain tidak khusu, tidak nikmat pun ujung-ujungnya merasa terpaksa. Saya berpikir kalau ibadah dilakukan dengan cara seperti ini berarti tidak ada artinya. Malam berikutnya jam 3 terbangun tapi hanya bangun sebentar terus kembali memeluk guling dan bantal sampai kesiangan bangunnya. Ada bisikan bahwa memeluk guling jauh lebih nikmat ketimbang shalat.

Biasanya hanya dengan berniat untuk bangun malam saja sudah cukup untuk bangun. Tapi karena niatnya hanya bangun bukan menjalankan shalat dengan khusu hasilnya bisa ditebak. Di hari berikutnya saya melakukan perubahan dalam cara berniat. Sebelum tidur, otak saya masuk dalam kondisi gelombang alfa terlebih dahulu. Kondisi tersebut sangat rileks setengah tidur setengah merem, tapi masih sadar. Kemudian tubuh saya diajak untuk berdialog satu per satu dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.

Saya katakan kepada telapak kaki, “Terimakasih hai telapak kaki kiri dan kanan, engkau sudah menopang tubuhku selama 35 tahun. Maafkan aku kalau tidak terlalu mempedulikanmu, padahal kerjamu sangat berat tanpa kenal lelah tak pernah mengeluh apalagi minta berhenti untuk menjadi telapak kakiku. Engkau tetap setiap setiap saat. Tapi mulai hari ini aku sadar bahwa aku tidak memiliki arti apa-apa bila tanpa kehadiranmu. Aku pincang kalau tidak ada dirimu. Aku sangat mencitaimu dan menyayangimu. Engkau begitu berharga bagiku. Kalau engkau mau memaafkan aku berikan respons hangat di wilayah telapak kaki.”

Sambil menunggu respons dari telapak kaki saya lanjutkan ke bagian-bagian tubuh yang lain ke betis kiri dan kanan, paha kiri dan kanan, punggung, perut dan isinya, paru-paru, bahu, tangan kanan dan kiri, kepala, telinga, hidung, mata, mulut, hidung, tenggorokan, otak dll. Saya merasakan respons yang sangat cepat dari bagian-bagiant tubuh yang diajak bicara. Ada rasa hangat yang muncul di tiap-tiap bagian organ tubuh tadi. Sensasi tersebut benar-benar membuat saya nyaman.

Setelah itu saya lanjutkan dengan kata-kata, “Tubuhku, Engkau telah menjadi bagianku yang tak terpisahkan. Aku ada permintaan, setiap hari aku mau bangun jam 3 pagi untuk menjalankan shalat malam. Bantu aku untuk mewujudkan semua itu supaya kita menjadi makhluk yang taat kepada penciptanya. Terimakasih.” Kemudian saya berdoa sebelum tidur dengan perasaan yang sangat nyaman. Dan ternyata jam 3 kurang 15 menit saya terbangun dengan perasaan yang sangat segar dan nyaman. Saya bersyukur bisa kembali menjalankan tradisi ini untuk mengisi malam-malam dengan dzikir, qiroatul quran, doa-doa penyejuk jiwa untuk senantiasa mendapatkan ampunan dan ridha-Nya.

Saya mempunyai keyakinan, kalau kita memiliki niat untuk mengubah kebiasaan lama dengan kebiasaan baru –umumnya dari kebiasaan kurang baik menuju kebiasaan yang lebih baik– kita dapat mengubahnya dengan cara yang lebih mudah. Asalkan kita mengajak diskusi, negosiasi, musyawarah dengan organ-organ tubuh kita sendiri. Tidak hanya untuk mengubah kebiasaan, untuk proses penyembuhan penyakit pun bisa dilakukan. Tentu dengan afirmasi kata-kata yang berbeda sesuai dengan tujuan saat itu. Selamat mencoba. (*)

Oleh: hidupbermakna | November 14, 2007

Mendapat Keajaiban Karena Taat Kepada Orangtua

Oleh A. ASEP SYARIFUDDIN

IBUKU adalah seseorang yang memiliki fisik yang lemah. Entah apa yang menjadikannya demikian. Tapi seingatku dia adalah orang yang mudah stress apabila menghadapi persoalan hidup. Ayahku hanyalah pegawai negeri golongan kecil, tidak heran kalau gaji sebulan sudah habis pada tanggal 10 setiap bulannya. Buntutnya, utang di koperasi di tempat kantor ayahku kian hari kian membengkak. Dan uang gaji yang sampai kepada ibuku tidak cukup menutupi kebutuhan satu bulan.

Di keluargaku ada tiga bersaudara, kakakku, aku dan adikku. Semuanya laki-laki. Tidak heran kalau terjadi perbedaan pendapat berujung adu mulut. Di sini ibuku sering menangis karena tidak siap melihat anak-anaknya berantem. Padahal dalam kacamataku, itu adalah persoalan yang wajar yang terjadi pada anak-anak. Lepas dari semua itu, aku ingin meringankan beban mental ibuku yang dirasa cukup berat. Sebagaian porsi pekerjaan ibuku mulai dari mencuci piring, mencuci pakaian, menyapu, mencari kayu bakar aku hendel. Ketika itu usiaku baru berumur 12 tahun atau kelas 6 SD.

Pagi-pagi setelah bangun subuh kubawa cucian ke sungai. Di sana sudah ada tetangga-tetangga yang semuanya adalah ibu-ibu. Awalnya mereka meledek dan mengolok-olok dengan ungkapan-ungkapan sinis. “Laki-laki kok mencuci baju keluarga, isterinya ke mana, melahirkan ya?” Tapi semua ledekan dan olok-olok itu tidak kupedulikan sampai akhirnya mereka berhenti mengolok-olok. Bahkan sebagian di antara mereka memberikan tanggapan positif karena walaupun laki-laki tapi mau membantu ibunya.

Pekerjaan tersebut kulakukan sampai aku kuliah. Bahkan aku sempat mendaftar ke sebuah perguruan tinggi di Bandung lewat PMDK, tapi akhirnya gagal. Bagaimana tanggapan ibuku? Dia malah bersyukur atas kegagalan tersebut. Dia bilang, “Kalau kamu tidak ada di sini beban ibu sangat berat, tidak ada yang membantu.” Aku terimaa semua itu sebagai sesuatu yang terbaik untukku. Karena aku pun tidak akan merasa tenang apabila jauh dari orang tua sementara ibuku secara lahiriah terlihat sangat lemah.

Dalam prinsipku, apapun yang dikatakan oleh ibuku adalah sesuatu yang mutlak. Entahlah, secara psikologis aku sangat yakin bahwa kata-kata ibu adalah benar adanya, surga ada di bawah telapak kaki ibu. Sampai-sampai ketika aku menaksir seorang cewek dan aku bilang kepada ibuku, dia berkata, mau belajar apa mau pacaran. Dengan berat hati aku urungkan niat untuk dekat dengan lawan jenis. Tidak heran kalau teman-temanku di SMA memberiku gelar anak mama. Ah betapa malunya aku di depan teman-temanku, tapi lagi-lagi semua ledekan tersebut kutelan dan tidak kupedulikan karena prinsip nasihat ibu adalah segalanya.

Di malam-malam yang sepi menjelang pagi, ibuku selalu membangunkanku untuk shalat malam. Merupakan pengalaman batin yang tidak pernah terlupakan. Kadang aku bersama ibuku menangis berdua, saat itu doa yang keluar sangat minimal, ingin diberikan jalan keluar dari himpitan hidup yang terasa sangat berat terutama keluar dari persoalan ekonomi. Tadarus Al Quran pun menjadi sebuah kebiasaan yang terus menerus dilakukan setiap hari. Memang ada kebahagiaan yang menggema di dalam batinku sehabis menjalankan shalat tahajud tersebut. Hari-hari terasa sangat indah, seisi alam seolah memberikan dukungan moral dan spiritual. Hidup terasa penuh makna. Aku memiliki keyakinan dan kepercayaan diri, siapa saja yang menjalankan shalat malam secara rutin dan menjadi kebiasaan sehari-hari, maka akan diberi jalan keluar dari berbagi persoalan hidup, sesulit apapun.

Di sekolah, aku tidak terlalu pandai. IQ ku tidak terlalu cerdas, tapi aku cukup rajin dan ulet dalam belajar. Itupun atas saran dari ibuku yang selalu mengatakan, bahwa kalau ingin sukses di masa yang akan datang maka ilmu pengetahuan adalah rajanya. Kamu akan mendapatkan apapun dari ilmu pengetahuan di masa yang akan datang, tapi jangan lupa agama tetap menjadi fondasi hidup supaya tdak terjebak oleh kesombongan dan merasa diri paling hebat. Camkan itu anakku. Kata-kata itulah yang masih terngiang di dalam telinga dan hatiku dan aku berusaha untuk tetap konsisten menjalankan nasihat-nasihat tersebut.

Menginjak usia 27 tahun, tahun 1999 bulan Desember, setelah satu bulan aku menikah, H-1 Ramadhan, aku harus berpisah dengan ibuku untuk selama-lamanya. Bumi terasa berhenti bergerak, alam terasa diam, hati berontak dan protes kepada Allah Yang Maha Kuasa. Mengapa dia yang selalu membimbingku, memberiku inspirasi, memberiku jalan hidup, memberiku semangat harus meninggalkanku untuk selama-lamanya? Kumandikan, kukafani, kusisiri, kusolatkan berjamaah dengan yang lain dan kuantar sampai ke liang kubur. Ada perasaan yang menyayat di dalam hati, siapakah yang akan menjadi pengganti ibuku, apakah aku sudah siap menghadapi kehidupan ini yang terjal, berliku penuh duri dan bebatuan?

Setelah satu minggu sejak kematian ibuku aku cepat menyadari siklus kehidupan yang senantiasa berubah, berjalan terus. Dan satu hal, setiap yang bernyawa pasti akan mengalami maut, termasuk diriku sendiri entah kapan. Tapi satu hal yang tidak pernah kulupakan dari ibuku, shalat malam setiap hari, belajar setiap saat, kelak engkau akan memiliki derajat yang tinggi. Ya, itulah mutiara yang sangat berharga yang diberikan ibuku, yang senantiasa menjadi panduan dan bekal hidup ke manapun aku pergi. Tidak mudah memang menghadapi hidup sendiri, banyak hal yang sebelumnya tidak diperhitungkan kemudian datang dengan tiba-tiba. Ternyata dunia ini sangat tidak bersahabat bagi yang tidak siap menghadapinya. Setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing bahkan nyaris perkawanan menjadi sangat rapuh akibat kepentingan pribadi yang terlalu menonjol.

Kini, aku tinggal bersama istriku dan seorang anakku di sebuah kota di Jawa Tengah. Dari kota kelahiranku di Jawa Barat menempuh perjalanan sekitar 4 jam. Tidak ada kerabat, tidak ada saudara tidak ada teman dekat yang sudah dikenal sejak awal. Tapi dari hari-ke hari aku merasa ada sesuatu yang senantiasa mensupport hidup ini. Pekerjaanku memang masih seorang karyawan, tapi lumayan menjadi top manajemen di sebuah perusahan swasta. Memang tidak semudah itu untuk mencapai posisi tadi, dan bukannya tanpa persoalan. Berbekal nasihat yang terus terngiang dari seorang ibu yang hanya lulus SD, tapi itu adalah bekal yang dapat menembus belantara kehidupan.

Kini, aku menyadari semua nasihat yang disampaikan ibuku waktu aku kecil. Aku terus mengingat perjalanan tersebut hingga kini sampai ke pernik-pernik kisah baik yang manis maupun yang pahit. Sampai menangis bersama adik dan kakakku pun masih tergambar jelas dalam benak. Benar kata pepatah, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Kalau aku tidak memiliki bekal spiritual yang cukup, kalau aku tidak memaksakan diri untuk kuliah sampai selesai walaupun dengan biaya yang tersendat-sendat, kalau aku tidak memiliki prinsip hidup dari ibuku, entahlah sekarang menjadi apa. Mungkin aku menjadi orang yang tidak berguna atau mungkin aku masih bingung menghadapi beratnya hidup ini.

Ya Allah, terimakasih atas anugerahmu, terimakasih atas segala petunjukmu, terimakasih Engkau telah memberikan nilai-nilai hidup lewat ibuku. Semua itu adalah sesuatu yang sangat berharga bagi diriku dan masa depanku, serta masa depan bangsa ini. Tanpa idzin-Mu, aku tidak akan seperti sekarang ini. Berikanlah rahmat tersebut kepada kami dan keluarga kami serta sahabat-sahabat muslim lainnya. Semoga, kami menjadi kelompok orang-orang yang bertakwa.

Semoga cerita ini menjadi inspirasi bagi siapapun yang membacanya. Ini memang bukan sesuatu yang terbaik, tapi paling tidak dapat menjadi refleksi, inspirasi bagi yang membaca. Hanya hidayah Allah lah yang membuat pengalaman seseorang menjadi inspirasi untuk menjalankannya. Amin. (*)

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.